Wednesday, March 5, 2008

Just Intermezzo

Klo lagi suntuk dan banyak kerjaan sih biasanya klo ga denger murotal yah main music. bermain musik hanya sekedar melepas kepenatan di tengah sibuknya pekerjaan dan kuliah. Just get the guitar and playing it.. so easy tapi jangan sampai terlena dan kebanyakan ngelamun.. apalagi sampe melupakan ibadah..

Biasanya klo malem sambil ngerjain beberapa tugas kuliah diiringi dengan petikan guitar kesayangan yang telah menemaniku selama 9 tahun... *lama juga yah. biasanya sih mainnya yang slow-slow ajah sambil mengusir ngantuk.. klo ga ya dengerin murotal.

Ada lagu dari shania twain yang biasanya aku nyanyikan... this just song ;)

YOU'RE STILL THE ONE
(When I first saw you I saw love and the first time you touched me
I felt love and after all this time
D G A
You're Still The One I love) MMMM Yeah
D G A
Looks like we made it Look how far we've come my baby
D G A
We mighta took the long way We knew we'd get there someday

BRIDGE:
D G A
They said "I bet they'll never make it"
D G A
But just look at us holding on
D G A
We're still together still going strong

CHORUS:
D G
(You're Still The One) You're Still The One I run to
Em
The one that I belong to
D G A
You're Still The One I want for life
D G
(You're Still The One) You're Still The One that I love
Em A D G A
The only one I dream of You're Still The One I kiss good night
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
D G A
Ain't nothin' better We beat the odds together
D G A
I'm glad we didn't listen Look at what we would be missin'

BRIDGE
D
CHORUS You're Still The One

SOLO: G A A D G A A D
Yeah
CHORUS

D
I'm so glad we made it
G A
Look how far we've come my baby

Monday, March 3, 2008

Pakaian Kebahagiaan ?

Pakaian Kebahagiaan
Suatu ketika, tersebutlah seorang raja yang kaya raya.
Kekayaannya sangat melimpah.
Emas, permata, berlian, dan semua batu berharga telah menjadi miliknya.
Tanah kekuasaannya, meluas hingga sejauh mata memandang.
Puluhan istana, dan ratusan pelayan siap menjadi hambanya.

Karena ia memerintah dengan tangan besi, apapun yang diinginkannya hampir selalu diraihnya.
Namun, semua itu tidak membuatnya merasa cukup.
Ia selalu merasa kekurangan. Tidurnya tidak nyenyak, hatinya selalu merasa tak bahagia. Hidupnya, dirasa sangat menyedihkan.

Suatu hari dipanggillah salah seorang prajurit terbaiknya. Sang raja lalu berkata "Aku telah punya banyak harta. Namun, aku tak pernah merasa bahagia. Karena, itu ujar sang raja, "aku akan memerintahkanmu memenuhi keinginanku.
Pergilah kau keseluruh penjuru negeri, dari pelosok ke pelosok, dan temukan orang yang paling berbahagia di negeri ini. Lalu, bawakan pakaiannya kepadaku."

"Carilah hingga ujung-ujung cakrawala dan buana.
Jika aku bisa mendapatkan pakaian itu, tentu, aku akan dapat merasa bahagia setiap hari. Aku tentu akan dapat membahagiakan diriku dengan pakaian itu.
Temukan sampai dapat!" perintah sang Raja kepada prajuritnya.
"Dan aku aku tidak mau kau kembali tanpa pakaian itu. Atau, kepalamu akan ku penggal!!

Mendengar titah sang Raja, prajurit itupun segera beranjak.
Disiapkannya ratusan pasukan untuk menunaikan tugas.
Berangkatlah mereka mencari benda itu.

Mereka pergi selama berbulan-bulan, menyusuri setiap penjuru negeri.
Seluas cakrawala, hingga ke ujung-ujung buana, seperti perintah Raja.

Di telitinya setiap kampung dan desa, untuk mencari orang yang paling berbahagia, dan mengambil pakaiannya.

Sang Raja pun mulai tak sabar menunggu.
Dia terus menuggu, dan menungggu hingga jemu.
Akhirnya, setelah berbulan-bulan pencarian, prajurit itu kembali.

Ah, dia berjalan tertunduk, merangkak dengan tangan dan kaki di lantai, tampak seperti memohon ampun pada Raja.
Amarah sang Raja mulai muncul, saat prajurit itu datang dengan tangan hampa.
"Kemari cepat!!. "Kau punya waktu 10 hitungan sebelum kepalamu di penggal. Jelaskan kepadaku mengapa kau melanggar perintahku. Mana pakaian kebahagiaan itu!" gurat-gurat kemarahan sang Raja tampak memuncak.
Dengan airmata berlinang, dan badan bergetar, perlahan prajurit itu mulai angkat bicara. "Duli tuanku, aku telah memenuhi perintahmu. Aku telah menyusuri penjuru negeri, seluas cakrawala, hingga keujung-ujung buana, untuk mencari orang paling berbahagia. Akupun telah berhasil menemukannya.

Kemudian, sang Raja kembali bertanya, "Lalu, mengapa tak kau bawakan pakaian kebahagiaan yang dimilikinya?
Prajurit itu menjawab, "Ampun beribu ampun, duli tuanku, orang yang paling berbahagia itu, TIDAK mempunyai pakaian yang bernama kebahagiaan."


----------------------


Teman...,
bisa jadi, memang tak ada pakaian yang bernama kebahagiaan.Sebab, kebahagiaan, seringkali memang tak membutuhkan apapun, kecuali perasaan itu sendiri.

Rasa itu itu hadir, dalam bentuk-bentuk yang sederhana, dan dalam wujud-wujud yang bersahaja.

Seringkali memang,
kebahagiaan tak ditemukan dalam gemerlap harta dan permata.
Seringkali memang, kebahagiaan, tak hadir dalam istana-istana megah.

Dan ya, kebahagiaan,
seringkali memang tak selalu ada pada besarnya kebahagiaan kita, mewahnya rumah kita, gemerlap lampu kristal yang kita miliki, dan indahnya jalinan sutra yang kita sandang.
Seringkali malah, kebahagiaan hadir dalam kesederhanaan, pada kesahajaan.

Seringkali rasa itu muncul pada rumah-rumah kecil yang orang-orang didalamnya mau mensyukuri keberadaan rumah itu.
Seringkali, kebahagiaan itu hadir, pada jalin-jemalin syukur yang tak henti terpanjatkan pada Ilahi.

Sebab, teman, kebahagiaan itu memang adanya di hati, di dalam kalbu ini.

Kebahagiaan, tak berada jauh dari kita, asalkan kita mau menjumpainya.
Ya, asalkan kita mau mensyukuri apa yang kita punyai, dan apa yang kita miliki.
Adakah "pakaian-pakaian kebahagiaan" itu telah anda sandang dalam hati?
Temukan itu dalam diri.

--mas_amin@mail.com--